Sunday, 4 July 2010

Unsur–unsur intrinsik cerpen

Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup: tema, alur, latar, perwatakan, sudut pandang, dan nilai–nilai yang terkandung di dalamnya.

a. Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.

b. Latar/setting adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas di mana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung

c. Alur/plot adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita. Alur meliputi beberapa tahap

1. Pengantar: bagian cerita berupa lukisan, waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
2. Penampilan masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
3. Puncak ketegangan/klimaks: masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
4. Ketegangan menurun/antiklimaks: masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
5. Penyelesaian/resolusi: masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
6. Perwatakan: menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi, yaitu melalui:
- Dialog tokoh
- Penjelasan tokoh
- Penggambaran fisik tokoh
7. Nilai(amanat): pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

Contoh!

Percayalah Pada Niat Baikmu, Martini

Oleh: Kurniawan Lastanto

Wanita itu bernama Martini. Kini ia kembali menginjakkan kakinya di lndonesia, setelah tiga tahun ia meninggalkan kampung halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari, Gunung Kidul.
Di dalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru. Beberapa jam lagi ia akan berjumpa kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk di bangku sekolah dasar mengenakan seragam putih–merah dan menempati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari Arab Saudi, negara di mana selama ini ia bekerja.
Martini adalah seorang tenaga kerja wanita yang berhasil di antara banyak kisah mengenai tenaga kerja wanita yang nasibnya kurang beruntung di negeri manca, di mana mereka mengadu nasibnya. Tidak jarang seorang TKW pulang ke tanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba–tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan atau tajamnya logam pancung yang kemudian membuat Kedubes RI, Deplu dan Depnaker kelimpungan dan tampak lebih sibuk.
Sangatlah beruntung bagi Martini mempunyai majikan yang sangat baik, bahkan dalam tiga tahun ia bekerja, ia telah dua kali melaksanakan umroh dengan biaya sang majikan. Majikannya adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan minyak di sana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya. Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja.
Dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabat pun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh–jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.
“Mungkin hal ini disebabkan karena kedatanganku yang memang terlambat tiga hari dari jadwal kepulangan yang direncanakan sebelumnya,” pikirnya husnuzon.
Dan pikiran ini malah membuatnya merasa bersalah, karena ia tidak memberitahukan kedatangannya melalui telepon sebelumnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal Pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu di mana pool bus Maju Lancar terdekat dari bandara Soekarno-Hatta, ia berharap di terminal Pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke Wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letih untuk perjalanan panjang yang ditempuh dari Arab Saudi.
Tanpa ia sadari, Martini telah sampai di depan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas Koko, Andra dan ibunya yang telah renta. Namun bingung dan pertanyaan muncul dalam benaknya. Yang ia lihat hanyalah rumah tua tanpa berubahan sedikit pun, kecuali kandang sapi di dekat rumahnya yang kini telah kosong. Sama keadaanya dengan tiga tahun lalu tatkala ia meninggalkan rumah tersebut.
“Mana rumah baru yang mas Koko bangun seperti yang ada di foto yang mas Koko kirimkan tiga bulan yang lalu. Apakah ia membeli tanah di tempat lain dan membangunnya di sana? Kalau begitu syukurlah,” pikirnya mencoba husnuzon.
Ia ketuk perlahan–lahan pintu rumahnya. Namun tidak ada seorang pun yang muncul membukakan pintu. “Kulo nuwun, mas…! Andra…! Mbok…!”
Beberapa saat kemudian barulah pintu yang terbuat dari kayu glugu tersebut terbuka. ”Madosi sinten, mbak?” tanya seorang bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah Andra yang muncul dari balik pintu.
“Andra aku ini ibumu, sudah lupa ya? Apakah bapakmu tidak menceritakan ihwal kedatanganku?” ucap Martini balik bertanya. “Ayah? Kedatangan ibu? Oh, mari masuk. Sebentar ya, Andra bangunkan mbah dulu,” ujar Andra sambil berlari menuju ke arah kamar neneknya.
Martini masuk ke dalam rumah dan duduk di atas amben yang terletak di sudut ruangan depan, seraya memperhatikan keadaan di dalam rumah yang ia huni sejak kecil tersebut. Keadaan dalam rumah pun tidak tampak ada perubahan yang berarti.
“Martini ya. Wah–wah anakku sudah datangdari perantauan,” terdengar suara tua khas ibu Martini sedang setengah berlari keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan anaknya, diikuti oleh Andra , membawakan segelas teh hangat.
”Bagaimana keadaan si mbok disini?” tanya Martini.
“Oh, anakku si mbok di sini baik–baik saja, kamu sendiri bagaimana, Tini?” “Saya baik–baik saja mbok, ngomong–ngomong mas Koko di mana mbok?” tanya martini. Mendengar pertanyaan itu, tiba–tiba air muka ibu martini berubah, ia tampak berpikir–pikir sejenak.
“Oh mengenai suamimu, nanti akan si mbok ceritakan, sebaiknya kamu ngaso dulu. Kau pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Jangan lupa teh hangatnya diminum dulu,” saran ibu Martini.
Martini menurut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah menikmati segelas teh hangat, ia mengangkat kaki dan tiduran di atas amben. Namun tetap saja ia tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tetap melayang memikirkan suaminya; di mana dia, apakah dia merantau ke Jakarta untuk turut mencari nafkah di perantauan? Di mana letak rumah barunya, atau apakah mas Koko malah meninggalkan dirinya dan menikah dengan wanita lain?
“Ah, tidak mungkin,” pikirnya kembali berusaha untuk tetap husnuzon. Ia mencoba bangkit lalu menemui ibunya yang sedang memasak di pawon.
“Maaf mbok, di mana mas Koko, Tini sudah kangen dan ingin berbicara dengannya,” ujar Martini membuka kembali percakapan. Ibu Martini tampak kembali berpikir sejenak, lalu berdiri dan mengambil segelas air putih dingin dari kendi.
“ Minumlah air putih ini agar kamu lebih tenang, Tini, nanti si mbok ceritakan di mana suamimu berada, kalau kamu memang sudah tidak sabar.”
Sementara itu martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. “ Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana, namun sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si mbok. Tentu saja si mbok marah besar kepadanya. Namun apa daya, si mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si mbok pegang pun pas–pasan. Mau mengirim surat kepadamu si mbok tidak bisa, kamu tahu kan si mbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu–satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”.
Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih marah dan kalut. “Mengapa si mbok tidak melaporkannya ke pak Kadus dan pak Kades?” ”Sudah, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si mbok. Namun sampai saat ini si mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara–suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
“Duh Gusti...., paringono sabar...,." terdengar Martini terisak, berusaha untuk tetap ingat kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa, suami yang begitu ia cintai dan ia percaya, dapat berbuat begitu kejam terhadapnya. Apalagi ia sekarang tinggal bersama istri barunya, di rumah hasil jerih payahnya selama tiga tahun merantau di arab Saudi.
"Mbok, di mana rumah baru itu berada?”
Wajah ibunya terlihat ketakutan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan anaknya dalam keadaan kalut di sana apabila ia tahu letak rumah tersebut.
"Mbok, di mana mbok,” suara Martini semakin tinggi, namun ibunya tetap diam.
”Kenapa si mbok tidak mau membertahu? Apakah si mbok merestuinya? Apakah si mbok mendukungnya? Apakah si mbok membela bajingan itu dari pada saya anakmu sendiri? Apakah.....”
“Diam Tini, teganya kamu menuduh ibumu seperti itu. Kamu mau menjadi anak durhaka? Ingatlah kamu kepada Tuhan, nak, ingatlah kepada Gusti Allah, nak!" Kalimat itu muncul dari mulut ibunya, yang kemudian terduduk menangis mendengar ucapan pedas anaknya tersebut.
“Ya sudah kalau si mbok tidak mau memberitahu. Tini akan cari sendiri rumah itu,” teriak Martini seraya meninggalkan ibunya yang sangat bersedih, yang berusaha mengejarnya namun kemudian jatuh tersungkur di halaman depan rumahnya karena tidak mampu lagi mengejarnya.
“Hei, mana Koko, bajingan sialan," teriak Martini sambil berjalan membabi buta, menyusuri jalan dengan muka merah padam. Pikirannya kacau balau.
“Buat apa aku bekerja jauh-jauh mencari uang di Arab Saudi demi kamu dan Andra, tetapi mengapa kau tega memanfaatkanku, menggunakan uangku untuk membuat rumah dan tinggal di sana bersama istri barumu. Kurang apa aku??”
Mendengar teriakan Martini, kontan para tetangga di sekitar situ segera berhamburan ke luar rumah. Mereka kebingungan menyaksikan ulah Tini yang sudah tidak mereka lihat selama tiga tahun, tiba–tiba muncul kembali di dusun itu dengan tingkah laku yang berubah 180 derajat. Martini yang dulunya lembut, penurut, kini kasar dan beringasan. Apakah ia telah gila? Apakah yang telah terjadi terhadap dirinya di Arab Saudi? Apakah ia dianiaya sebagaimana sering terdengar berita di media massa mengenai TKW yang disiksa?
Namun kemudian mereka segera menyadari. Hal ini pasti karena Martini telah mengetahui perbuatan suaminya. Segera saja mereka mengejar dan mencoba menenangkan Martini. Namun dengan kuat Martini mencoba melepaskan tangannya dari dekapan tetangganya itu. Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu terlihat dengan mesranya berdiri di samping Koko yang meletakkan kedua tangannya di pinggang koko.
”Hei, siapa kamu? Tini ya? Kenapa kamu ke sini? Ini rumahku bersama mas Koko. Bukannya kamu sudah mati, kalau belum mendingan kamu mati saja sekarang. Itu lebih baik, dari pada mau merusak kebahagiaan kami. Bukan begitu, mas Koko?” ujar wanita yang ada di sebelah Koko sambil mengalungkan tangan kanannya di leher Koko dengan lembutnya.
Hal ini jelas membuat Tini makin marah.
“Hai , dasar kau, wanita murahan, tidak tahu diri. Koko adalah suamiku. Dan kau Koko, mengapa kau tega menipuku, meninggalkanku hanya untuk menikahi wanita keparat ini? Dasar bajingan!”
Dekapan tetangga yang memegang Martini akhirnya lepas. Dengan cepat Martini meraih sebuah bambu yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju ke arah Koko dan istri barunya. Dengan tidak hati-hati ia menaiki anak tangga yang menuju ke dalam rumah baru itu. Secepat kilat ia mengayunkan bambu itu ke arah mereka berdua. Namun malang, belum sampai bambu itu mengenai sasaran, ia kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dari dua anak tangga dan jatuh terjerembab tak sadarkan diri.
”Mbak–mbak, bangun mbak. Mau turun di mana mbak? Ini sudah sampai di Wonosari," terdengar sayup-sayup suara pemuda yang duduk di dekat Martini.
"Astaghfirullahaladzim. Ha... Apa...? Wonosari?" tanya Martini. “Ya, mbak sepertinya dari tadi mbak gelisah tidurnya," ujar pemuda itu. ”Apakah benar ini Wonosari?" tanya Martini memastikan seraya mengarahkan pandangannya keluar jendela.
Ya ini adalah daerah yang telah tiga tahun ia tinggalkan.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih," batin Martini bahagia.

3 comments:

Anonymous said...

trims ya

zam zam said...

Sama Sama...

franky said...

tuliskan unsur intrinsik nya dong gan :)

Popular Posts

Selamat datang di blog kami. Semoga blog kami banyak manfaatnya bagi sobat rekan semua yang mengunjungi blog kami. Terima kasih atas kunjungan rekan semua. http://turalakpujingkai-ciamis.co.cc