Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Wednesday, 21 July 2010

Unsur unsur notulis

Unsur unsur yang harus di tulis oleh seorang notulis adalah sebagai berikut :

Halo Sobat rekan semua, bagi sobat yang membutuhkan kamera Fujifilem FinePixS1800. Bisa anda lihat di Link di bawah ini :
Fujifilm FinePix S1800 12.2 MP Digital Camera with 18x Wide Angle Optical Dual Image Stabilized Zoom and 3-Inch LCD
  1. Nama diskusi.
  2. Tempat dan waktu diskusi.
  3.  Pemandu diskusi.
  4. Penyaji/pembicara diskusi.
  5. Jumlah peserta yang hadir.
  6. Materi pokok diskusi.
  7. Permasalahan yang dihadapi.
  8. Penanggulangan masalah.
  9. Saran dan usulan peserta.
  10. Kesimpulan diskusi.
  11. Nama dan tanda tangan notulis.

Paragraf Berpola Deduktif

Paragraf adalah bagian dari telaah wacana dalam bahasa Indonesia.

Haloo sobat rakan, anda mempunyai mobil dan mau pergi jauh. Takut tersesat, anda bisa menggunakan TV GPS Navigator untuk mengetahui keberadaan sobat rekan, untuk mengetahuinya bisa sobat lihat di link di bawah ini :

Penalaran dalam paragraf sebuah wacana dapat berpola deduktif dan induktif.

Penalaran deduktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwa - peristiwa yang sifatnya umum menuju pernyataan khusus. Apabila diidentifikasi secara terperinci, paragraf berpola deduktif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  •  letak kalimat utama di awal paragraf atau paragraf kedua,
  • diawali dengan pernyataan umum disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.

Teknik Penyajian Berpidato yang Baik

Dalam menyampaikan materi pidato diperlukan strategi penyampaian yang baik untuk menarik simpati pendengarnya. Teknik penyampaian pidato yang baik adalah sebagai berikut :

  1. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami pendengar.
  2. Menggunakan contoh dan ilustrasi yang mempermudah pendengar dalammemahami konsep yang abstrak apabila diperlukan.
  3. Memberi penekanan dengan cara mengadakan variasi dalam gaya penyajian.
  4. Mengorganisasikan materi sajian dengan urut dari hal mudah ke hal yang sulit dan lengkap.
  5. Menghindari penggunaan kata-kata yang meragukan dan berlebih-lebihan.
  6. Program atau materi disajikan dengan urutan yang jelas.
  7. Berikan ikhtisar butir-butir yang penting, baik selama sajian maupun pada akhir sajian.
  8. Gunakan variasi suara dalam memberikan penekanan pada hal-hal yang penting.
  9. Kejelasan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat agar pendengar tidak bosan atau terkesan monoton.
  10. Membuat dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pemahamanpendengar, minat pendengar, atau sikap pendengar, jika diperlukan
  11. Menggunakan nada suara, volume suara, kecepatan bicara secara bervariasi.
  12. Menggunakan bahasa tubuh yang mendukung komunikasi dengan pendengar.

Tujuan Berpidato

Berpidato tidak hanya sekadar bermain kata-kata. Berpidato juga memiliki maksud dan tujuan yang baik dan bermanfaat. Maksud dan tujuan berpidato antara lain sebagai berikut.

  1. Mendorong/memberi semangat pendengarnya.
  2. Meyakinkan pendengarnya.
  3. Menginginkan reaksi dari pendengarnya.
  4. Memberitahukan/menginformasikan pendengarnya.
  5. Menyenangkan dan menghibur pendengarnya.

Metode Berpidato

Berpidato yang baik tentu harus memilih metode yang baik. Metode-metode berpidato yang baik dapat dibagi menjadi berikut ini.

  1. Metode naskah, yaitu berpidato yang mengandalkan pada naskah. Metode ini dipakai biasanya dalam pidato-pidato resmi, pidato di televisi atau diradio.
  2. Metode menghafal, yaitu metode berpidato yang direncanakan jauh hari sebelumnya. Metode ini biasanya akan membosankan bagi pendengarnya.
  3. Metode impromptu/serta-merta, yaitu metode berpidato berdasarkan kebutuhan sesaat. Oleh karena itu, metode ini tanpa ada persiapan sebelumnya, sehingga hasilnya akan kurang maksimal.
  4. Metode ekstemporan (catatan kecil), yaitu metode berpidato yang direncanakan dengan menggunakan catatan kecil sebagai inti dan rangkaian pembicaraan yang akan disampaikan kepada pendengarnya.
Keempat metode ini saling melengkapi. Masing-masing metode memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, sebagian orang yang kreatif justru menggabungkan berbagai metode berpidato di atas untuk menarik simpati pendengarnya.

Unsur-unsur Pidato

Unsur-unsur dalam berpidato adalah pembicara, bahan/materi pembicaraan, objek atau pendengar, dan tema. Ketiga unsur tersebut saling memengaruhi satu dengan yang lain. Hilangnya salah satu unsur tersebut di atas, akan mengakibatkan ketimpangan dalam berpidato.

Menulis Surat lamaran

Surat lamaran pekerjaan biasa ditulis seseorang ditujukan kepada suatu instansi atau perusahaan. Dalam surat lamaran tersebut, seorang pelamar menawarkan keahlian, kemampuan, atau jasa agar diterima menjadi karyawan atau pegawai di instansi atau perusahaan tersebut.


Unsur-unsur yang terdapat dalam surat lamaran pekerjaan adalah sebagai berikut :
  • Identitas pelamar, yang meliputi: nama, alamat, usia, tempat dan tanggal lahir, pendidikan.
  • Jenis pekerjaan yang diminta.
  • Apabila telah mempunyai pengalaman, dicantumkan pengalaman kerja.
  • Data pendukung yang dimiliki, misalnya: STTB, riwayat hidup, dan sertifikat keahlian.
  • Sumber lamaran, baik dari iklan maupun pengumuman.

Friday, 16 July 2010

Menulis sebuah cerpen

Menulis sebuah cerpen tidak semudah membalikkan telapak tangan. Seorang penulis cerpen memiliki proses kreatif yang berbeda-beda. Namun demikian, secara umum langkah-langkah yang harus di tempuh untuk menulis cerpen dapat dilakukan sebagai berikut.

A. Motivasi.
B. Tema/topik yang akan ditulis.
C. Pembaca/sasaran.
D. Mulai menulis.
E. Dibaca dan direvisi/perbaikan.
F. Menulis kembali hasil revisi.
G. Dibaca sekali lagi.
H. Direvisi lagi kalau ada perbaikan.
I. Dikirim ke media cetak atau majalah.

Dalam penulisan sebuah cerpen perlu diperhatikan beberapa unsur intrinsik dalam karya sastra, yaitu tema, penokohan/perwatakan, konflik, seting/latar, sudut pandang pengarang, alur, dan pesan/amanat. Dengan memperhatikan unsur-unsur intrinsik tersebut, diharapkan para cerpenis dapat menuangkan ide dan gagasannya secara luas. Tidak menutup kemungkinan juga diikutkannya unsure ekstrinsik dalam penulisan cerpen tersebut, yaitu pengarang, faktor-faktor social dan budaya, agama, pihak lain (pemerintah/lembaga lain), dan lain-lain.

Periodisasi Sastra Indonesia

Sampai sekarang pembabakan atau periodisasi sastra Indonesia belum dapat menemui kata sepakat. Setiap ahli mempunyai anggapan-anggapan yang berbeda sesuai dengan keyakinannya dan dasar pemikiran masing-masing. Para ahli yang membuat pembabakan itu antara lain adalah Ayip Rosidi, H.B. Jassin, J.S. Badudu, Nugroho Notosusanto, Simorangkir-Simanjuntak, dan Usman Effendi.

Sebagai bahan perbandingan, di bawah ini diturunkan pembabakan dari setiap para ahli di atas.


Periodisasi Sastra Menurut Ayip Rosidi

a. Masa Kelahiran atau Masa Kejadian (Awal Abad XX - 1945)
1. Periode Awal Abad XX – 1933
2. Periode 1933 – 1942
3. Periode 1942 – 1945
b. Masa Perkembangan (Sejak 1945 hingga Sekarang)
1. Periode 1945 – 1953
2. Periode 1953 – 1960
3. Periode 1961 – Sekarang

Periodisasi Sastra Menurut H.B. Jassin

a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Melayu Modern
1. Angkatan 20
2. Angkatan 33 atau Pujangga Baru
3. Angkatan 45
4. Angkatan 66

Periodisasi Sastra Menurut J.S. Badudu

a. Kesusastraan Lama dengan Angkatan Lama
1. Kesusastraan Masa Purba
2. Kesusastraan Masa Hindu-Arab
b. Kesusastraan Peralihan dengan Angkatan Peralihan
1. Abdullah bin Abdulkadir Munsji
2. Angkatan Balai Pustaka
c. Kesusastraan Baru dengan Angkatan Baru.
1. Angkatan Pujangga Baru
2. Angkatan Modern (Angkatan ’45)
3. Angkatan Muda

Periodisasi Sastra Menurut Nugroho Notosusanto
a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Melayu Modern
1. Masa Kebangkitan
a. Masa Kebangkitan
b. Periode 20
c. Periode 33
d. Periode 42
2. Masa Perkembangan
a. Periode 45
b. Periode 50

Periodisasi Sastra Menurut Simorangkir-Simanjuntak
a. Kesusastraan Masa Lama atau Purba
b. Kesusastraan Masa Hindu/Arab
c. Kesusastraan Masa Baru
d. Kesusastraan Masa Mutakhir

Periodisasi Sastra Menurut Usman Effendi
a. Kesusastraan Lama (… - 1920)
b. Kesusastraan Baru (1920 – 1945)
c. Kesusatraan Modern (1945 - …)



Gagasan Pokok

Ya untuk bisa memahami gagasan pokok dengan cermat dan cepat Anda perlu banyak berlatih membaca. Karena setiap membaca dan memahami sebuah tulisan dengan cepat, hasilnya pun akan tepat. 

Langkah-langkah yang tepat dan cepat dalam membaca dan memahami maknanya adalah sebagai berikut :

a. Mempersiapkan diri secara psikologis sebelum membaca.
b. Membaca tulisan dengan tenang namun cepat.
c. Sambil membaca, memberikan tanda-tanda yang merupakan gagasan pokok dan gagasan utamanya.
d. Menyediakan stopwatch atau jam tangan untuk mengukur kecepatan dan ketepatan dalam membaca.
e. Membaca dengan penuh konsentrasi.

Menulis Puisi

Menulis puisi tidak jauh berbeda dengan menulis cerpen, yakni memerlukan inspirasi dan proses kreatif yang berbeda-beda dari masing-masing penulis.
Dalam menulis puisi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

a. Memilih Tema
Tema perlu ditentukan dalam menulis puisi. Puisi yang akan ditulis dapat berupa tema agama, budaya, sosial, kemanusiaan, dan lain-lain.

b. Memilih Diksi
Diksi adalah pilihan kata. Dalam penulisan puisi, pemilihan diksi sangat menentukan kebermaknaan suatu puisi. Pilihan diksi yang tepat dan menyentil akan memberikan warna tersendiri pada hasil tulisan puisi tersebut.

c. Pemilihan Rima
Rima merupakan pengulangan bunyi yang berselang, baik di awal larik sajak atau di akhir sajak yang berdekatan. Dengan pemilihan rima yang tepat, tentunya akan memberikan karakter dan daya tarik tersendiri ketika menikmati puisi tersebut.

d. Pemilihan Gaya Bahasa
Penyair perlu menentukan gaya bahasa yang tepat ketika ingin mengayunkan pena ke dalam kertas-kertasnya. Gaya bahasa tentu sangat berpengaruh terhadap hasil cipta puisi seorang penyair. Dengan gaya bahasa yang tepat, berarti karakter yang kuat dan menarik pun dapat terwujud.
.

Perhatikan contoh puisi berikut ini!

Catatan Akhir Tahun
(Oleh: Tjahjono Widarmanto)

Inilah saatnya,
Kita musti luangkan waktu
Sejenak merenung menyimak mengakrabi tanda-tanda
Rumput, bunga, musim, dan manusia
Mengenang dalam-dalam
Wajah bulan yang nyaris terlupa.
Inilah saatnya
Kita musti luangkan waktu
Sejenak berjalan keliling kebun binatang
Kita pandangi kembali
Berbagai rupa; macan, ular, dan babi
Juga rupa wajah sendiri!
Sudahkah kita berbeda?
Inilah saatnya
Kita menatap kembali matahari
Yang sudah terlanjur hampir ke puncak
Sambil merebai nguratan tangan sendiri
Menghikmati kembali jejak kaki
Inilah saatnya kita sejenak sisihkan waktu
Duduk sendiri di pinggir telaga
Menatapi mesranya titik embun pada daun
Menyimak malam dan kuburan yang mandi rembulan
Bukankah ada yang tinggal

(Sumber: Horison-XXXII/7/1997)


Dosa
(Oleh: Ernawaty Mati)

Berjalan
Gelap dan sepi
Sepi sekali, gelap sekali
Hanya bayang-bayang hitam
Pepohonan pun tak bergerak
Meraba
Merangkak
Mencoba menerobos
Namun jalan tak jua bertemu
Hati merasa, batin mengerti
Kaki masuk perlahan
Dalam lubang besar dan dalam jurang maut !!!
Namun tak kuasa jua
Hati beranjak darinya
Dan malaikat maut pun nyengir
Gigi hitamnya perlahan terbuka
Siap menerkam

(Sumber: Horison-XXXII/7/1997)

Kerangka Paragraf

Langkah-langkah dalam menyusun paragraf dalam menulis sebuah esai adalah sebagai berikut.
a. Menentukan judul esai.
b. Menentukan topik permasalahan yang akan dibicarakan dalam tulisan.
c. Menentukan tujuan penulisan esai.
d. Menentukan jenis esai yang akan ditulis.
e. Membuat kerangka paragrafnya.
f. Membuat paragraf pembukanya.
g. Membuat paragraf pengembangannya.
h. Membuat paragraf penutupnya.

Drama

Drama adalah salah satu bentuk karya sastra yang menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan konflik melalui dialog. Unsur-unsur intrinsik drama adalah sebagai berikut.
a. Plot atau kerangka cerita, merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Unsur-unsur plot dijelaskan di bawah ini.
1) Pelukisan awal cerita.
2) Komplikasi atau pertikaian awal.
3) Klimaks atau titik puncak cerita.
4) Resolusi atau penyelesaian.
5) Keputusan.
Plot atau kerangka cerita drama ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut.
1) Sirkuler, artinya cerita berkisar pada satu peristiwa saja.
2) Linier, artinya cerita bergerak secara berurutan dari A-Z.
3) Episodik, yaitu jalinan cerita itu terpisah, kemudian bertemu pada akhir cerita.
b. Penokohan atau perwatakan, yaitu orang yang berperan dalam drama. Perwatakan penokohan dapat dibedakan menjadi berikut ini.
1) Protagonis, yaitu tokoh yang mendukung cerita.
2) Antagonis, yaitu tokoh yang menentang cerita.
3) Tritagonis, yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun antagonis.
c. Dialog, yaitu percakapan dalam drama. Dalam drama, dialog harus memenuhi dua tuntutan berikut ini.
1) Dialog harus menunjang gerak dan laku tokohnya.
2) Dialog dalam pentas harus lebih tajam daripada dialog sehari-hari
d. Setting/landasan/tempat kejadian cerita biasanya disebut juga latar cerita. Setting biasanya mencakup hal-hal berikut.
1) Setting tempat berhubungan dengan ruang waktu, misalnya di Jawa dan tahun berapa.
2) Setting waktu berarti apakah lakon terjadi di waktu siang, sore, atau malam hari.
e. Tema atau nada dasar cerita merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama.
f. Amanat atau pesan pengarang yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya harus dicari oleh pembaca atau penonton. Amanat adalah maksud yang terkandung dalam suatu drama.

Ciri-ciri karya sastra Tiap Periode/ Angkatan

Berbicara masalah sastra tidak ada habisnya karena sastra berkembang seiring dengan perkembangan manusia. Sastra atau kesusastraan ialah hasil karya manusia yang mempergunakan bahasa sebagai alat pencurahannya, baik lisan maupun tulisan, yang dapat menimbulkan rasa indah (estetis) serta dapat menggetarkan tali jiwa pembaca atau pendengarnya. Hasil karya sastra manusia dapat bernilai sastra apabila terdapat kesepadanan bentuk dan isi, bentuk bahasa yang baik dan indah susunannya, serta isinya dapat menimbulkan rasa keharuan dan kekaguman. Sumber karya sastra adalah kenyataan yang hidup di alam dan masyarakat. Peristiwa-peristiwa yang terjadi diangkat dan dimanifestasikan kembali dalam bentuk imajinasi, penafsiran, dan penilaian sehingga menjadi hasil karya yang agung dan mengagumkan pembacanya. Pada umumnya, sifat sastra banyak dipengaruhi oleh sifat masyarakat pada zamannya. Sifat masyarakat lama memengaruhi kesusastraan lama; demikian pula sifat masyarakat baru turut memengaruhi kesusastraan baru. Sifat-sifat kesusastraan lama adalah sebagai berikut.

a. Istana sentris (cerita mengenai keluarga istana).
b. Statis (perubahannya sangat lambat).
c. Bentuk karangan terikat pada bentuk yang sudah ada, seperti pantun dan syair.
d. Anonim (nama pengarang tidak disebutkan).
e. Ciptaannya bersifat menghibur dan mendidik.

Sifat-sifat kesusastraan baru adalah sebagai berikut.

a. Masyarakat sentries.
b. Dinamis (berubah sesuai dengan perkembangan zaman).
c. Terlepas dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang lain dan memperlihatkan kepribadian pengarang.
d. Setiap karangan disebutkan nama pengarangnya.

Ciri dari Gurindam

Gurindam juga bisa disebut sajak peribahasa merupakan puisi yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1. Terdiri atas dua baris.
2. Rumus rima akhirnya adalah /aa/
3. Baris pertama merupakan syarat, dan baris kedua berisi akibat dari yang ditimbulkan oleh baris pertama.
4. Berisi ajaran, budi pekerti, dan nasihat keagamaan

Contoh:

Barang siapa berbuat fitnah
Ibarat dirinya menentang panah

Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah artinya boleh berkat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Monday, 12 July 2010

Membaca Intensif pada teks deduktif

1. Menemukan Paragraf Berpola Deduktif
Paragraf adalah bagian dari telaah wacana dalam bahasa Indonesia.
Penalaran dalam paragraf sebuah wacana dapat berpola deduktif dan induktif.
Penalaran deduktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwaperistiwa
yang sifatnya umum menuju pernyataan khusus. Apabila diidentifikasi
secara terperinci, paragraf berpola deduktif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. letak kalimat utama di awal paragraf atau paragraf kedua,
b. diawali dengan pernyataan umum disusun dengan uraian atau penjelasan
khusus.
Untuk menemukan paragraf, baik yang berpola deduktif maupun induktif,
harus dilakukan membaca yang intensif terhadap teks. Membaca intensif
maksudnya membaca secara sungguh-sungguh sehingga mengetahui isinya
secara optimal.

Contoh Teks
Mencermati Masalah Pencemaran Lingkungan;
Perlu Solusi Jangka Panjang dan Pendek

Pencemaran lingkungan tampaknya semakin parah di negeri ini.
Berbagai kasus pencemaran mencuat di beberapa wilayah. Penderitaan
manusia maupun kerugian material pun mulai disadari sebagai akibat
dari terkontaminasinya alam lingkungan oleh racun dari berbagai limbah.
Warga masyarakat di Teluk Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara,
banyak yang menderita penyakit yang sulit dideteksi jenisnya. Namun
dipastikan bahwa penyakit itu muncul lantaran adanya kandungan
logam berat di dalam tubuh penderita yang melebihi takaran semestinya.
Hal itu tak lain disebabkan adanya pencemaran lingkungan.
Pada bagian lain, dari penelitian Universitas Sebelas Maret (UNS)
Solo di Kabupaten Karanganyar juga terkuak adanya pencemaran
lingkungan tanah pertanian dan sumur warga. Ada tiga wilayah
kecamatan yang tercemar. Sementara itu di Kabupaten Sragen diberitakan
juga terjadi pencemaran di aliran Sungai Bengawan Solo sehingga
para penambang pasir di Desa Newung, Sukodono, Sragen sering mengalami
gatal-gatal. Dalam kesehariannya mereka bekerja menambang
pasir di Bengawan Solo yang tercemar limbah.
Jika instalasi pengolahan limbah suatu pabrik belum dioperasikan
optimal dan sempurna atau terjadi kerusakan IPAL dan pemadaman
listrik, akan mempengaruhi hasil limbah yang diolah. Pada akhirnya,
akan menimbulkan pencemaran limbah buangan tersebut. Limbah
buangan yang mengandung larutan logam berat akan meracuni
kehidupan yang terkena atau yang menggunakan air itu.
Logam itu keberadaannya di bumi dapat berasal secara alamiah,
yakni hasil proses mineral batuan yang bercampur dengan tanah, adanya
aliran air di bawah tanah yang melalui tanah-tanah yang mengandung
unsur logam berat sehingga akan mempengaruhi tanah yang dialiri
tersebut. Selain itu, juga dapat melalui air hujan yang membawa partikel
unsur-unsur itu di udara setelah terjadi presipitasi.
Dalam kasus pencemaran lingkungan, jalan penyelesaian yang biasa
ditempuh adalah dengan memberi ganti rugi kepada pihak korban.
Seperti, korban pencemaran air kemudian diberi air bersih sebagai solusi.
Itu merupakan penyelesaian sesaat dan tidak menyelesaikan masalah
jangka panjang. “Solusi jangka pendek memang penting, namun
demikian semua pihak juga perlu duduk bersama untuk menentukan
langkah solusi jangka panjang,” tutur Rossana Dewi, Direktur Eksekutif
LSM Gita Pertiwi.
“Masalah pencemaran lingkungan merupakan masalah yang sulit
sebab semua pihak memiliki kepentingan. Pihak industri juga punya
kepentingan untuk berdiri, sedangkan pihak masyarakat juga mempunyai
kepentingan. Namun demikian, jika terjadi pencemaran, banyak industri
yang tutup mata. Di sisi lain warga yang membau limbah juga akan
protes,” imbuhnya.
Namun, masalah pencemaran sebenarnya ada langkah antisipasinya.
Seperti adanya syarat HO untuk mendirikan pabrik. Itu langkah
antisipasi. Selain itu, juga perlu policy lain yang dapat menguntungkan
pelestarian alam. Di lahan pertanian memang pencemaran tidak
disebabkan oleh adanya industri, karena pertanian sendiri juga dapat
menimbulkan pencemaran. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang
berpuluh tahun tentu saja akan meracuni tanah.
Dalam hal ini memang petani tidak punya alternatif lain selain
menggunakan pupuk itu. Ini perlu policy, bukan justru mencari kambing
hitam atas terjadinya pencemaran. Jika telah terjadi pencemaran, yang
diperlukan adalah solusi pemecahannya secara bersama. Pemerintah,
pelaku usaha, masyarakat sekitar usaha, LSM, pers, dan pihak yang
berkompeten lainnya perlu duduk bersama.

(Dikutip seperlunya dari harian Solopos, 13 Agustus 2006)

Berpidato Tanpa Teks

1. Lancar Berpidato dengan Lafal, Intonasi, Nada, dan Sikap yang Tepat

Berpidato adalah aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mengungkapkan
ide, gagasan, dan pikiran, baik direncanakan maupun tidak direncanakan.
Berpidato merupakan salah satu keterampilan berbicara. Apabila kita pandai
berpidato tentu saja akan mendatangkan banyak keuntungan, baik keuntungan
secara pribadi maupun secara umum bagi keluarga dan masyarakat luas.


a. Unsur-unsur Pidato
Unsur-unsur dalam berpidato adalah pembicara, bahan/materi pembicaraan,
objek atau pendengar, dan tema. Ketiga unsur tersebut saling memengaruhi
satu dengan yang lain. Hilangnya salah satu unsur tersebut di atas, akan
mengakibatkan ketimpangan dalam berpidato.

b. Metode Berpidato
Berpidato yang baik tentu harus memilih metode yang baik. Metode-metode
berpidato yang baik dapat dibagi menjadi berikut ini.
1) Metode naskah, yaitu berpidato yang mengandalkan pada naskah. Metode
ini dipakai biasanya dalam pidato-pidato resmi, pidato di televisi atau di
radio.
2) Metode menghafal, yaitu metode berpidato yang direncanakan jauh hari
sebelumnya. Metode ini biasanya akan membosankan bagi pendengarnya.
3) Metode impromptu/serta-merta, yaitu metode berpidato berdasarkan kebutuhan
sesaat. Oleh karena itu, metode ini tanpa ada persiapan sebelumnya,
sehingga hasilnya akan kurang maksimal.
4) Metode ekstemporan (catatan kecil), yaitu metode berpidato yang direncanakan
dengan menggunakan catatan kecil sebagai inti dan rangkaian
pembicaraan yang akan disampaikan kepada pendengarnya.

Keempat metode ini saling melengkapi. Masing-masing metode memiliki
keunggulan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, sebagian orang
yang kreatif justru menggabungkan berbagai metode berpidato di atas untuk
menarik simpati pendengarnya.

c. Maksud dan Tujuan Berpidato
Berpidato tidak hanya sekadar bermain kata-kata. Berpidato juga memiliki
maksud dan tujuan yang baik dan bermanfaat. Maksud dan tujuan berpidato
antara lain sebagai berikut.
1) Mendorong/memberi semangat pendengarnya.
2) Meyakinkan pendengarnya.
3) Menginginkan reaksi dari pendengarnya.
4) Memberitahukan/menginformasikan pendengarnya.
5) Menyenangkan dan menghibur pendengarnya.
d. Teknik Penyajian Berpidato yang Baik
Dalam menyampaikan materi pidato diperlukan strategi penyampaian yang
baik untuk menarik simpati pendengarnya. Teknik penyampaian pidato yang
baik adalah sebagai berikut.
1) Menggunakan bahasa yang mudah dipahami pendengar.
2) Menggunakan contoh dan ilustrasi yang mempermudah pendengar dalam
memahami konsep yang abstrak apabila diperlukan.
3) Memberi penekanan dengan cara mengadakan variasi dalam gaya
penyajian.
4) Mengorganisasikan materi.
5) Menghindari penggunaan kata-kata yang meragukan dan berlebih-lebihan.
6) Program atau materi disajikan dengan urutan yang jelas.
7) Berikan ikhtisar butir-butir yang penting, baik selama sajian maupun pada
akhir sajian.
8) Gunakan variasi suara dalam memberikan penekanan pada hal-hal yang
penting.
9) Kejelasan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat agar pendengar tidak
bosan atau terkesan monoton.
10) Membuat dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman
pendengar, minat pendengar, atau sikap pendengar, jika diperlukan.
11) Menggunakan nada suara, volume suara, kecepatan bicara secara
bervariasi.
12) Menggunakan bahasa tubuh yang mendukung komunikasi dengan pendengar.

Sunday, 4 July 2010

Unsur–unsur intrinsik cerpen

Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup: tema, alur, latar, perwatakan, sudut pandang, dan nilai–nilai yang terkandung di dalamnya.

a. Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.

b. Latar/setting adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas di mana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung

c. Alur/plot adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita. Alur meliputi beberapa tahap

1. Pengantar: bagian cerita berupa lukisan, waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
2. Penampilan masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
3. Puncak ketegangan/klimaks: masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
4. Ketegangan menurun/antiklimaks: masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
5. Penyelesaian/resolusi: masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
6. Perwatakan: menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi, yaitu melalui:
- Dialog tokoh
- Penjelasan tokoh
- Penggambaran fisik tokoh
7. Nilai(amanat): pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

Contoh!

Percayalah Pada Niat Baikmu, Martini

Oleh: Kurniawan Lastanto

Wanita itu bernama Martini. Kini ia kembali menginjakkan kakinya di lndonesia, setelah tiga tahun ia meninggalkan kampung halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari, Gunung Kidul.
Di dalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru. Beberapa jam lagi ia akan berjumpa kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk di bangku sekolah dasar mengenakan seragam putih–merah dan menempati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari Arab Saudi, negara di mana selama ini ia bekerja.
Martini adalah seorang tenaga kerja wanita yang berhasil di antara banyak kisah mengenai tenaga kerja wanita yang nasibnya kurang beruntung di negeri manca, di mana mereka mengadu nasibnya. Tidak jarang seorang TKW pulang ke tanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba–tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan atau tajamnya logam pancung yang kemudian membuat Kedubes RI, Deplu dan Depnaker kelimpungan dan tampak lebih sibuk.
Sangatlah beruntung bagi Martini mempunyai majikan yang sangat baik, bahkan dalam tiga tahun ia bekerja, ia telah dua kali melaksanakan umroh dengan biaya sang majikan. Majikannya adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan minyak di sana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya. Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja.
Dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabat pun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh–jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.
“Mungkin hal ini disebabkan karena kedatanganku yang memang terlambat tiga hari dari jadwal kepulangan yang direncanakan sebelumnya,” pikirnya husnuzon.
Dan pikiran ini malah membuatnya merasa bersalah, karena ia tidak memberitahukan kedatangannya melalui telepon sebelumnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal Pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu di mana pool bus Maju Lancar terdekat dari bandara Soekarno-Hatta, ia berharap di terminal Pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke Wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letih untuk perjalanan panjang yang ditempuh dari Arab Saudi.
Tanpa ia sadari, Martini telah sampai di depan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas Koko, Andra dan ibunya yang telah renta. Namun bingung dan pertanyaan muncul dalam benaknya. Yang ia lihat hanyalah rumah tua tanpa berubahan sedikit pun, kecuali kandang sapi di dekat rumahnya yang kini telah kosong. Sama keadaanya dengan tiga tahun lalu tatkala ia meninggalkan rumah tersebut.
“Mana rumah baru yang mas Koko bangun seperti yang ada di foto yang mas Koko kirimkan tiga bulan yang lalu. Apakah ia membeli tanah di tempat lain dan membangunnya di sana? Kalau begitu syukurlah,” pikirnya mencoba husnuzon.
Ia ketuk perlahan–lahan pintu rumahnya. Namun tidak ada seorang pun yang muncul membukakan pintu. “Kulo nuwun, mas…! Andra…! Mbok…!”
Beberapa saat kemudian barulah pintu yang terbuat dari kayu glugu tersebut terbuka. ”Madosi sinten, mbak?” tanya seorang bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah Andra yang muncul dari balik pintu.
“Andra aku ini ibumu, sudah lupa ya? Apakah bapakmu tidak menceritakan ihwal kedatanganku?” ucap Martini balik bertanya. “Ayah? Kedatangan ibu? Oh, mari masuk. Sebentar ya, Andra bangunkan mbah dulu,” ujar Andra sambil berlari menuju ke arah kamar neneknya.
Martini masuk ke dalam rumah dan duduk di atas amben yang terletak di sudut ruangan depan, seraya memperhatikan keadaan di dalam rumah yang ia huni sejak kecil tersebut. Keadaan dalam rumah pun tidak tampak ada perubahan yang berarti.
“Martini ya. Wah–wah anakku sudah datangdari perantauan,” terdengar suara tua khas ibu Martini sedang setengah berlari keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan anaknya, diikuti oleh Andra , membawakan segelas teh hangat.
”Bagaimana keadaan si mbok disini?” tanya Martini.
“Oh, anakku si mbok di sini baik–baik saja, kamu sendiri bagaimana, Tini?” “Saya baik–baik saja mbok, ngomong–ngomong mas Koko di mana mbok?” tanya martini. Mendengar pertanyaan itu, tiba–tiba air muka ibu martini berubah, ia tampak berpikir–pikir sejenak.
“Oh mengenai suamimu, nanti akan si mbok ceritakan, sebaiknya kamu ngaso dulu. Kau pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Jangan lupa teh hangatnya diminum dulu,” saran ibu Martini.
Martini menurut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah menikmati segelas teh hangat, ia mengangkat kaki dan tiduran di atas amben. Namun tetap saja ia tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tetap melayang memikirkan suaminya; di mana dia, apakah dia merantau ke Jakarta untuk turut mencari nafkah di perantauan? Di mana letak rumah barunya, atau apakah mas Koko malah meninggalkan dirinya dan menikah dengan wanita lain?
“Ah, tidak mungkin,” pikirnya kembali berusaha untuk tetap husnuzon. Ia mencoba bangkit lalu menemui ibunya yang sedang memasak di pawon.
“Maaf mbok, di mana mas Koko, Tini sudah kangen dan ingin berbicara dengannya,” ujar Martini membuka kembali percakapan. Ibu Martini tampak kembali berpikir sejenak, lalu berdiri dan mengambil segelas air putih dingin dari kendi.
“ Minumlah air putih ini agar kamu lebih tenang, Tini, nanti si mbok ceritakan di mana suamimu berada, kalau kamu memang sudah tidak sabar.”
Sementara itu martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. “ Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana, namun sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si mbok. Tentu saja si mbok marah besar kepadanya. Namun apa daya, si mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si mbok pegang pun pas–pasan. Mau mengirim surat kepadamu si mbok tidak bisa, kamu tahu kan si mbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu–satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”.
Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih marah dan kalut. “Mengapa si mbok tidak melaporkannya ke pak Kadus dan pak Kades?” ”Sudah, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si mbok. Namun sampai saat ini si mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara–suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
“Duh Gusti...., paringono sabar...,." terdengar Martini terisak, berusaha untuk tetap ingat kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa, suami yang begitu ia cintai dan ia percaya, dapat berbuat begitu kejam terhadapnya. Apalagi ia sekarang tinggal bersama istri barunya, di rumah hasil jerih payahnya selama tiga tahun merantau di arab Saudi.
"Mbok, di mana rumah baru itu berada?”
Wajah ibunya terlihat ketakutan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan anaknya dalam keadaan kalut di sana apabila ia tahu letak rumah tersebut.
"Mbok, di mana mbok,” suara Martini semakin tinggi, namun ibunya tetap diam.
”Kenapa si mbok tidak mau membertahu? Apakah si mbok merestuinya? Apakah si mbok mendukungnya? Apakah si mbok membela bajingan itu dari pada saya anakmu sendiri? Apakah.....”
“Diam Tini, teganya kamu menuduh ibumu seperti itu. Kamu mau menjadi anak durhaka? Ingatlah kamu kepada Tuhan, nak, ingatlah kepada Gusti Allah, nak!" Kalimat itu muncul dari mulut ibunya, yang kemudian terduduk menangis mendengar ucapan pedas anaknya tersebut.
“Ya sudah kalau si mbok tidak mau memberitahu. Tini akan cari sendiri rumah itu,” teriak Martini seraya meninggalkan ibunya yang sangat bersedih, yang berusaha mengejarnya namun kemudian jatuh tersungkur di halaman depan rumahnya karena tidak mampu lagi mengejarnya.
“Hei, mana Koko, bajingan sialan," teriak Martini sambil berjalan membabi buta, menyusuri jalan dengan muka merah padam. Pikirannya kacau balau.
“Buat apa aku bekerja jauh-jauh mencari uang di Arab Saudi demi kamu dan Andra, tetapi mengapa kau tega memanfaatkanku, menggunakan uangku untuk membuat rumah dan tinggal di sana bersama istri barumu. Kurang apa aku??”
Mendengar teriakan Martini, kontan para tetangga di sekitar situ segera berhamburan ke luar rumah. Mereka kebingungan menyaksikan ulah Tini yang sudah tidak mereka lihat selama tiga tahun, tiba–tiba muncul kembali di dusun itu dengan tingkah laku yang berubah 180 derajat. Martini yang dulunya lembut, penurut, kini kasar dan beringasan. Apakah ia telah gila? Apakah yang telah terjadi terhadap dirinya di Arab Saudi? Apakah ia dianiaya sebagaimana sering terdengar berita di media massa mengenai TKW yang disiksa?
Namun kemudian mereka segera menyadari. Hal ini pasti karena Martini telah mengetahui perbuatan suaminya. Segera saja mereka mengejar dan mencoba menenangkan Martini. Namun dengan kuat Martini mencoba melepaskan tangannya dari dekapan tetangganya itu. Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu terlihat dengan mesranya berdiri di samping Koko yang meletakkan kedua tangannya di pinggang koko.
”Hei, siapa kamu? Tini ya? Kenapa kamu ke sini? Ini rumahku bersama mas Koko. Bukannya kamu sudah mati, kalau belum mendingan kamu mati saja sekarang. Itu lebih baik, dari pada mau merusak kebahagiaan kami. Bukan begitu, mas Koko?” ujar wanita yang ada di sebelah Koko sambil mengalungkan tangan kanannya di leher Koko dengan lembutnya.
Hal ini jelas membuat Tini makin marah.
“Hai , dasar kau, wanita murahan, tidak tahu diri. Koko adalah suamiku. Dan kau Koko, mengapa kau tega menipuku, meninggalkanku hanya untuk menikahi wanita keparat ini? Dasar bajingan!”
Dekapan tetangga yang memegang Martini akhirnya lepas. Dengan cepat Martini meraih sebuah bambu yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju ke arah Koko dan istri barunya. Dengan tidak hati-hati ia menaiki anak tangga yang menuju ke dalam rumah baru itu. Secepat kilat ia mengayunkan bambu itu ke arah mereka berdua. Namun malang, belum sampai bambu itu mengenai sasaran, ia kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dari dua anak tangga dan jatuh terjerembab tak sadarkan diri.
”Mbak–mbak, bangun mbak. Mau turun di mana mbak? Ini sudah sampai di Wonosari," terdengar sayup-sayup suara pemuda yang duduk di dekat Martini.
"Astaghfirullahaladzim. Ha... Apa...? Wonosari?" tanya Martini. “Ya, mbak sepertinya dari tadi mbak gelisah tidurnya," ujar pemuda itu. ”Apakah benar ini Wonosari?" tanya Martini memastikan seraya mengarahkan pandangannya keluar jendela.
Ya ini adalah daerah yang telah tiga tahun ia tinggalkan.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih," batin Martini bahagia.

Wednesday, 9 June 2010

Fakta

Fakta (bahasa Latin: factus) ialah segala sesuatu yang tertangkap oleh indera manusia. Catatan atas pengumpulan fakta disebut data.


Fakta seringkali diyakini oleh orang banyak (umum) sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat maupun karena mereka dianggap telah melaporkan pengalaman orang lain yang sesungguhnya.

Dalam istilah keilmuan, fakta adalah suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat dilakukan verifikasi oleh siapapun.

Diluar lingkup keilmuan fakta sering pula dihubungkan dengan:

1. Suatu hasil pengamatan jujur yang diakui oleh pengamat yang diakui secara luas.
2. Galat biasa terjadi pada proses interpretasi makna dari suatu observasi.
3. Kekuasaan kadang digunakan untuk memaksakan interpretasi politis yang benar dari suatu pengamatan.
4. Suatu kebiasaan yang diamati secara berulang; satu pengamatan terhadap fenomena apapun tidak menjadikan itu sebagai suatu fakta. Hasil pengamatan yang berulang biasanya dibutuhkan dengan menggunakan prosedur atau definisi cara kerja suatu fenomena.
5. Sesuatu yang dianggap aktual sebagai lawan dari dibuat
6. Sesuatu yang nyata, yang digunakan sebagai bahan interpretasi lanjutan
7. Informasi mengenai subyek tertentu
8. Sesuatu yang dipercaya sebagai penyebab atau makna

Opini adalah pendapat, pikiran, pendirian, pandangan, perspektif dan tanggapan mengenai suatu kejadian, keadaan, dan desas-desus tentang sesuatu hal. Opini belum teruji kebenarannya seperti halnya fakta. Opini hanyalah suatu pandangan yang belum tentu benar kenyataannya. Contoh kalimat pendapat :
a. Sebaiknya Anda menunggu sampai acara ini selesai.
b. Mungkin akan lebih baik jika ruangan ini diperbaiki kembali.
c. Sebaiknya perusahaan itu dikelola oleh para karyawan yang ada di sana.

Mengidentifikasi Kalimat Fakta dan Opini dalam Laporan

Laporan yang baik harus disampaikan secara akurat, lugas, dan jujur. Informasi yang disampaikan harus objektif dan transparan. tidak ada sesuatu yang dimanipulasi atau direkayasa. Semua hal vang dilaporkan adalah sesuatu yang benar-benar ada dan benar-benar teriadi. Pelapor tidak diperkenankan untuk menambah, membesar-besarkan, atau rnelebih-lebihkan informasi, sebaliknya juga tidak boleh mengurangi atau menyembunvikan informasi yang seharusnya disampaikan. Dengan kata lain, apa yang disampaikan semata-mata hanya berupa fakta.

Prinsip tersebut juga berlaku bagi jurnalis atau wartawan saat melaporkan hasil liputannya. Namun, karena ada alasan tertentu, Iaporan kadang tidak dibuat sebagaimana mestinya. Dalam pemberitaan di surat kabar, sering kali kita temukan opini penulis. Wartarwan kadang tidak bisa menjaga jarak dan terseret pada objek pemberitaan. Ada wartawan yang terlalu berpihak pada kepentingan pembaca sehingga disadari atau tidak, kata-kata yang ditulis bukan lagi fakta. Tidak jarang. dalam suatu pemberitaan kita menemukan ulasan, penafsiran,penilaian, atau ungkapan perasaan penulis sehingga informasi yang disampaikan rnenjadi tidak jelaskebenarannya. Berkaitan dengan opini dalam suatu pemberitaan, harus dibedakan dengan jelas dan tegas antara opini wartawan dan opini narasumber. Narasumber adalah orang vang dimintai komentar atau keterangannya oleh wartawan berkaitan suatu kejadian/peristiwa.

Perhatikan kutipan berita berikut,

“Kinerja jajaran Sekretariat jenderal (Setjen) DPR dikeluhkan kalangan anggotaDPR. Wakil Ketua Tim Kajian Peningkatan Kinerja DPR,”

“Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan kualitas sumber daya manusia (SDM) Setjen DPR sangat rendah.”

Kalimat yang ditulis oleh wartawan dalam berita tersebut semuanva

adalah fakta.

- Adalah suatu fakta bahwa kinerja jajaran Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR dikeluhkan kalangan anggota DPR.

- Adalah fakta bahwa Wakil Ketua Tim Kajian Peningkatan Kinerja DPR Lukman Hakim Saifuddln, menyatakan kualitas sumber daya manusia (SDM) Setjen DPR sangat rendah.

Pernyataan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) Setjen DPR sangat rendah merupakan sebuah opini, tetapi ini merupakan opini narasumber,yaitu Wakil Ketua Tim Kajian Peningkatan Kinerja DPR Lukman Hakim Saifuddin dan bukan opini penulis berita.Fakta dan Opini

Membedakan Fakta dan Opini

Kalimat yang berisi fakta merupakan kalimat yang ditulis berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi dan bersifat objektif. Fakta memiliki ciri, ditandai oleh hadirnya data berupa angka. Ini berbeda dengan pendapat yang kemungkinan kebenarannya sangat relatif karena dipengaruhi unsur pribadi yang bersifat subjektif. Pendapat memiliki ciri fisik yang biasanya ditandai kata sangat, semakin, dapat, mungkin, bisa jadi, tidak mungkin, sebaiknya dan lain-lain yang menunjuk kepada subjektifitas seseorang.

Saturday, 5 June 2010

Cerpen

Cerpen adalah karya sastra yang memberikan kesan tunggal dan memusatkan pada satu tokoh dalam satu situasi. Dengan cerita yang tidak terlalu panjang. Membaca cerpen dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Cerpen dibangun berdasarkan unsur-unsur intrinsic dan ekstrinsik dalam karya sastra itu sendiri.

Adapun ciri-ciri cerpen adalah sebagai berikut:

a. Merupakan cerita singkat
b. Mengandung satu gagasan tunggal
c. Menyajikan kejadian yang menarik dan penting
d. Berakhir dengan penyelesaian konflik
e. Bersifat fiktif dan imajinatif

Fungsi cerpen antara lain:
a. Sebagai hiburan
b. Memberi pengetahuan tentang kehidupan
c. Sebagai bahan informasi
d. Sebagai pengayaan dan sumber saran-saran bagaimana sikap kita dalam menjalani kehidupan

Jenis cerita pendek terdiri dari empat macam, yakni:
a. Cerita Pendek Sastra
Cerpen sastra bersifat universal, dalam pemaparannay mengangkat persoalan mendasar dalam kehidupan. Ditulis secara apik dengan bahasa yang komunikatif, filosofis, dan banyak menggunakan makna konotatif serta mengangkat persoalan yang kompleks.
b. Cerita Pendek Pop
Seperti kita kenal sebagai cerpen populer. Ceritanya selalu ditutup dengan Happy Ending, banyak digemari orang, picisan, dan bahasa yang digunakan terlalu indah. Serta selalu menitikberatkan pada jalan cerita.
c. Cerita Pendek Terjemahan
Cerpen terjemahan ini, biasanya merupakan karya satra yang bonafit, best seller dan mendapatkan Nobel di bidang satra. Maka dari itu, isi dalam cerpen ini sudah diakui di kancah sastra Internasional.
d. Cerita Pendek Karya Sendiri
Cerita pendek ini, biasanya merupakan ungkapan hati sang penulis, lebih pada kebebasan berekspresi dan lahir dengan ciri khas penulisan yang berbeda tergantung orang yang membuat karya sastra itu sendiri.