Showing posts with label Jurnalistik. Show all posts
Showing posts with label Jurnalistik. Show all posts

Tuesday, 11 December 2012

Essay: Jenis, Fitur & Prinsip Dasar
            
   
oleh: Angela Ttomcornish 


 Pada dasarnya, esai adalah tulisan kreatif dalam prosa pada setiap masalah-masalah di mana penulis bertujuan untuk memberikan pandangan pribadinya tentang suatu subjek. esai Istilah '' berasal dari arti kata Perancis 'tindakan berat' dan berusaha menunjukkan ', usaha atau produk perusahaan. Oleh karena itu, esai adalah cobaan atau upaya penulis untuk mengekspresikan dalam bentuk tertulis setiap titik pandang yang berisi ide-ide umum seorang penulis pada masalah-subjek. Esai dianggap endevours dari penulis untuk mencerna pikiran mereka sendiri dan untuk berbagi ide-ide mereka dengan orang lain. Sejumlah besar tulisan telah diterbitkan pada setiap subyek tertentu dalam pers. Lebih dari itu, esai adalah jenis yang lebih baik untuk menulis lanjutan praktek di sekolah.  

Essays dapat bervariasi dalam ukuran. Meskipun demikian, ukuran rata-rata sebuah esai sekolah adalah sekitar lima ratus kata. Sesuai dengan cara di mana topik disajikan, esai dapat diklasifikasikan ke dalam jenis berikut: argumentatif, naratif dan deskriptif. 

Esai argumentatif merupakan bagian dari tulisan di mana penulis mengkomunikasikan pendapat atau pandangan dan berdebat untuk atau terhadap sebuah ide tertentu. 

Esai naratif adalah gambaran urutan kejadian satu sama lain. Materi yang diatur sesuai dengan urutan kejadian yang sebenarnya. 

Esai deskriptif berbeda dengan esai naratif dalam urutan fakta-fakta dan ide-ide mengikuti satu sama lain. Ia tidak tergantung pada suksesi sebenarnya peristiwa melainkan fitur pada peristiwa atau pola penulis presentasi. 

esai tersebut berisi tiga bagian utama struktur wajib: pendahuluan, tubuh utama dan kesimpulan. Perlu diingat bahwa esai yang sempurna adalah ditandai dengan koherensi, kejelasan, logika dan konsistensi. 

Berikut adalah beberapa tips tentang cara membuat sebuah esai yang jelas. Sebelum Anda mulai menulis esai, penting untuk mengumpulkan, mengamati, menganalisis dan menggabungkan fakta-fakta yang relevan dengan materi-subjek esai. Dengan kata lain, data-base dan skema yang baik dari pekerjaan masa depan adalah prasyarat dari sebuah esai yang sangat baik. 

Begitu Anda memutuskan suatu topik, mengatur agar fakta yang sesuai untuk tujuan esai Anda dan memilih metode data Anda set-up (perbandingan, kontras, analogi pada fakta, klasifikasi). Buatlah outline lengkap yang akan membantu Anda menjaga pola Anda ketika Anda menulis. Simpan ke batas yang ditentukan ruang dan belajar untuk tidak melebihi mereka. Tentukan tujuan Anda dalam bentuk tertulis dengan membuat pernyataan tesis yang akan mengungkapkan suatu topik. Tuliskan konsep awal untuk memastikan bahwa Anda telah mengorganisir esai Anda secara logis dan bahwa bagian pengantar dan kesimpulan yang jelas untuk membuat karya Anda menulis lebih efektif. Format draft akhir Anda sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. 

Seperti yang terlihat dari atas, untuk mengembangkan keahlian dalam menciptakan satu esai harus memiliki pengetahuan tentang elemen strukturalnya, fitur dan jenis dan terus berlatih, sebagai praktek membuat sempurna. 

Friday, 23 November 2012

Cara Menembus Media?


Menulis bukan hanya tentang idealisme, menulis juga tentang realisme. Kesempatan dimuat di media adalah kesempatan agar karya Anda dibaca dan diapresiasi oleh orang banyak. Honor adalah kompensasi paling akhir, meski tidak dapat dipungkiri bahwa bagi sebagian penulis, honor adalah motivasi paling awal. Ada sebagian penulis yang beranggapan bahwa media, dalam hal ini koran, adalah sebuah penasbihan. Jadi ketika karya Anda (cerpen atau puisi atau opini) dimuat di sebuah koran, maka penulis itu disebut sah disebut sebagai penulis. Ada juga sebagian penulis yang menganggap bahwa publisitas bukan barometer. Semuanya dikembalikan kepada Anda.

Namun ada hal-hal yang harus dicermati ketika kita akan mengirimkan karya ke sebuah media. Ibarat mencari pacar, maka kita harus tahu kesukaan kecengan kita apa, warna favoritnya, tempat nongkrongnya, dan hal-hal yang bisa kita jadikan 'bekal nembak'. Begitu juga dengan media. Jika Anda adalah penulis generalis dalam arti menulis apa saja, genre yang mana saja, tentu Anda harus menyesuaikan kebutuhan pasar, dalam hal ini kebijakan media. Nah, bagi Anda yang masih bingung akan ke mana naskah Anda dilempar, tentu mengetahui kebijakan editorial masing-masing media sangat diperlukan. Seperti strategi marketing; melempar produk yang tepat kepada audiens yang tepat.

Kenapa harus mengenali media? Karena Anda tentu tidak ingin naskah Anda sia-sia, bukan? Misalnya, mengirimkan chicklit ke majalah Bobo, sampai cacing berbulu pun, naskah Anda tidak akan dimuat. Kenapa? Karena Bobo adalah majalah anak-anak, dan cerpen Anda tidak sesuai untuk segmen pembaca mereka.

Agar Anda tidak salah kirim dan menyia-nyiakan naskah Anda, ada baiknya Anda melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. JENIS RUBRIK
Patut diketahui bahwa tidak setiap media memuat cerpen dan atau puisi. Ada yang hanya memuat cerpen tapi tidak untuk puisi, ada yang hanya memuat puisi tapi tidak cerpen, ada yang memuat keduanya, ada juga yang tidak memuat keduanya. Misalnya, Tribun Jabar menyediakan halaman Senandika untuk cerpen, tapi di sana tidak ada puisi. Jadi, jangan kirimkan puisi ke Tribun Jabar. Majalah Kartini, Sekar, Chic, Femina adalah contoh-contoh majalah yang hanya menerima cerpen, tidak untuk puisi.

Cara untuk mengetahui itu bagaimana? Belilah media yang bersangkutan, koran biasanya setiap hari Minggu, majalah ada yang terbit mingguan, ada yang dwi mingguan, ada juga yang terbit setiap bulan. Perhatikan rubrik apa saja yang ada di sana yang menerima tulisan dari luar.

2. JENIS MEDIA
Jika diperhatikan, jenis-jenis cerpen di koran, majalah, atau tabloid berbeda-beda dari gaya penceritaan dan pemilihan tema. Koran lebih bersifat umum sedangkan majalah dan tabloid biasanya disesuaikan dengan segmen pembaca. Sesuaikan gaya bercerita Anda. Merasa terkekang dengan keinginan media? Jangan kirimkan cerpen Anda. Mudah saja, bukan?

3. VISI DAN MISI
Majalah anak-anak dengan majalah wanita dewasa tentu berbeda. Majalah wanita dewasa pun ada berbagai jenis. Chic diperuntukkan bagi para wanita karier. Femina dan Sekar berbeda lagi. Belum lagi ada berbagai jenis koran.

Visi dan misi biasanya bersangkutan dengan kebijakan editorial. Misalnya, majalah Ummi, Annida, Sabili, Tarbawi lebih ke visi dan misi islami. Jangan kirimkan cerpen-cerpen bertema rating 'S' ke sana karena akan langsung 'dibantai' :D.

Majalah Bobo dikhususkan untuk pembaca anak-anak. Majalah Story berisi cerpen-cerpen bertema remaja walau sekarang ada satu rubrik yang khusus memuat cerpen yang 'nyastra'. Republika lebih islami, berbeda dengan Kompas dan Pikiran Rakyat.

4. PANJANG NASKAH
Patokan panjang naskah di berbagai media itu berbeda-beda karena disesuaikan dengan space yang mereka sediakan. Ini penting, karena tidak semua redaktur mau bersusah payah mengirimkan cerpen yang kita kirim untuk direvisi, biasanya langsung ditolak mentah-mentah. Contoh, Tribun Jabar mematok maksimal 7 ribu karakter dengan spasi. Jawa Pos, Inilah Koran, dan Kompas sekitar 9-10 ribu karakter. Dengan spasi? Yaiyalah dengan spasi, kecuali medianya mengatakan lain.

Bagaimana mengetahui ini? Lihat informasinya di media yang bersangkutan. Majalah Story memuat detail pengiriman naskah di setiap edisinya. Atau, bisa bertanya kepada mereka yang naskahnya sudah pernah dimuat. Bisa juga tanyakan langsung kepada redaktur atau pengasuh rubrik yang bersangkutan. Masih tidak bisa? Kirimkan e-mail atau telepon. Masih tidak bisa juga? PM atau DM.

Dan tolong jangan tanya soal jenis huruf dan besar huruf. Nyaris seluruh media menggunakan standard TNR 12 dengan spasi 1.5.

5. KENALI SELERA REDAKTUR
Koran adalah media yang paling susah ditebak. Hanya Tuhan dan redaktur bersangkutan yang tahu. Hahahaha .... Believe it or not, tidak ada garis merah atau garis besar tentang ini. Untuk mengetahuinya, baca cerpen-cerpen atau puisi yang telah lebih dulu dimuat, atau baca karya-karya redakturnya. Biasanya para redaktur juga adalah para penulis. Mengenali selera redaktur memang bukan langkah yang mudah, karena walau bagaimanapun, selera itu akan dibenturkan dengan visi dan misi serta kebijakan editorial media yang bersangkutan. Menyerah? Please don't!

6. TEKNIS PENGIRIMAN
Hard copy atau soft copy. Dewasa ini banyak media yang lebih suka menerima naskah dalam bentuk e-mail daripada dalam bentuk print out. Barangkali dalam rangka save the earth dan mengurangi sampah naskah, eh sampah kertas :D

Ini keuntungan bagi kita para penulis karena mengirim naskah melalui e-mail cenderung lebih ringkas daripada harus mengirimkan naskah dalam bentuk hard copy. Eh sebentar, beberapa hari yang lalu pernah ada yang bertanya kepada saya apa itu beda hard copy dan soft copy. Oke, mari saya jelaskan di sini juga.

Hard copy ==>; Dikirim dalam bentuk print out (please, jangan tanya print out itu apa), disertai biodata, dan surat pengantar. Contoh surat pengantar bisa dilihat di sini. Foto? Sesuaikan dengan media, ada yang meminta foto ada yang tidak. Kalau media yang bersangkutan tidak meminta foto, sebaiknya jangan kirim foto Anda.

Apakah perlu dijilid? Cerpen? No! Kalau novel, iya. Masukkan semua berkas tadi ke dalam amplop cokelat tertutup. Ingat, amplop! Jangan kertas koran atau kertas kado. Anda sedang mengirim naskah, bukan mengirim ucapan selamat ulang tahun.
Dikirim melalui apa? Datang langsung ke redaksi, pos, jasa ekspedisi. Pilih saja sesuai selera Anda.

Soft copy ==>; Dikirim dalam bentuk file, disertai dengan biodata, dan surat pengantar di badan e-mail. Foto sama dengan cara pengiriman hard copy di atas. And remember this: kirim naskah di lampiran, BUKAN DI BADAN E-MAIL. Kalau mau jadi penulis sukses, jangan gaptek :D.

Untuk surat pengantar melalui e-mail, Anda bisa menggunakan pengantar yang sama seperti ketika mengirim hard copy, bisa juga dengan yang lebih ringkas.
Contoh:

Kepada redaktur koran ...

Berikut ini saya kirimkan naskah cerpen/puisi dengan judul ....
Bersama naskah ini pula saya sertakan biodata.
Terima kasih.

Hormat saya,

(Nama jelas/nama pena)

Dikirim ke mana? Tentu saja dikirim ke redaktur yang bersangkutan. Tidak tahu alamat e-mailnya? Please refer to this link.


Setelah naskah dikirim lalu apa? Ya tunggu sampai dimuat. Ditolak? Buat yang baru, kirim lagi. Masih ditolak? Buat aja terus sampai dimuat. Hehehe .... Because being a writer is a hardwork. Good luck, and keep writing.

Salam
~eS